I miss the way you touch my hand, in the middle of the night, under the moonlight, walking on the bridge, sat on the rock, looked into your eyes when you laugh.
I love this picture that you took.
But…
I don’t love you, i just missing you..
Di dalam air kepalaku menjadi liar
Tubuh begitu gemulai meliuk membelahnya,
Begitupun dengan kepalaku ini..
(Terkadang aku menggelengkan kepala, berbicara, ataupun berteriak didalamnya)
Ada hati yang sedang berbicara,
Luka dan bahagia terekam jelas saat aku di sana.
Kemari, akan kuberitahu kamu tentang kenikmatannya,
Di dalam sana aku bisa lupa peliknya dunia,
Di lain waktu aku lupa rasa air mata yang melebur bersama air kolam renang ataupun asinnya air laut.
(Lalu aku memejamkan mata mencoba memasang telinga)
Dari kejauhan samar kudengar suara anak-anak kecil yang bercengkrama,
Kemudian suara mereka hilang dimakan angin saat kepalaku tenggelam
Hebat bukan?
Di dalam sana seolah akulah ratu yang memimpin kerajaannya
bisa jadi akulah si Buta dan Tuli yang tak tersentuh dunia.
(Dinginnya mendinginkan sekujur tubuhku)
Di luar sana kepalaku berubah menjadi tungku berasap
Semut api dan beberapa kalajengking menancapkan mulutnya pada hati dan kepala
Sesekali aku tersungkur dan terjatuh sampai kutemukan kerajaan kecilku,
Di sana… Di dalam sana…
Lihatlah air yang tenang itu,
Di sini… Dan di sini semuanya berubah menjadi dingin.
(Mereka berubah seperti sekumpulan pemain Orchestra)
Aku tersenyum, bebunyian bising memenuhi kepala…
Saxophone, perkusi dan alat musik lainnya bermain dengan riang
Tak perlu aku bercerita, mereka menyambutku suka cita
Akulah gadis bergaun sewarna Dahlia yang bersuara merdu
Menjadi bintang diantara para pemusik.
Aku membelah air, tenggelam, mengisi oksigen lalu memejamkan mata.
Ada yang harus kuucapkan pada sang Malam,
“Terima Kasih”.
Kini, biarkan aku bercerita mengenainya yang menjura.
Dari ratusan orang yang lalu lalang dia merajai pandang,
Bibirku tak kuasa menyebutkan namanya, andai ia tahu gemuruh detak jantung yang tak tentu saat itu.
Ceruk matanya tempat bersemayan ribuan bintang,
Senyumnya semanis gula-gula harum manis penganan kegemaranku semenjak kecil,
Hadirnya serupa senja yang diagung-agungkan kebanyakan orang.
Sepertinya otakku sudah kosong tak berisi,
Semisal ada kata yang paling basi pun tak bisa kuucapkan hanya untuk sekadar berlama-lama melihatnya,
Jangan paksa aku tuk beradu pandang lebih lama,
Yang kutakut kau melihat sakura bermunculan dari sepasang pipi bakpao ini.
Lalu yang terjadi aku hanya berpura-pura tak menatapmu,
Andai kau tahu dari balik punggungku mata ini begitu liar mencari wajah rupawan itu.
Kini, rindu-rindu berjajar mengabsenkan diri setiap harinya,
Bukan hanya pada malam, tapi pada pagi dan siang,
Senja, andaikan kita saling menggengam tangan menikmati keindahannya,
Saat itulah aku wanita yang paling bahagia.
Kini, rinduku kepalang ajar,
Ia selalu mengajakku bermain dan tak pernah mau beristirahat.
Kini, rinduku sudah menjadi kebiasaan,
Menatapmu dibalik rangkaian kata-kata yang tersusun indah tanpa cela.
Kini, rinduku bermain dalam taman imaji,
Melompat-lompat dan berlari tetap dalam mimpi.
Perut ini mulai membuncit. Di luar sana puluhan mata mulai menyipit dengan mulut komat kamit yang menelanjangiku dengan sengit. Aku tak peduli mereka, yang menyayat hatiku adalah pria di depan pintu itu. Matanya sempat menjadi mentari yang menceriakan pagi saat aku membuka mata. Tubuhnya adalah tembok yang kokoh menopang tubuhku disaat malam, maupun fajar. Tapi kini,. matanya adalah sorot senja yang terluka, membuatnya terlihat begitu rapuh dibalik badannya yang tegap.
Pagi yang seharusnya manis serupa teh cammomile yang kusesap pagi ini. Perutku bergejolak seperti sedang beratraksi. Mungkin bayi mungilku sedang melakukan tarian ala pemandu sorak yang sedang menyemangati klub kesayangannya. Perlahan sakitku memudar oleh semangat yang terbakar.
Aku tidak tahu yang mana dosa setelah kumengenal cinta. Buta? Ya mungkin saja itu benar kalau itu inginmu. Sejumput ragu sempat menggelitik, tapi aku lebih tahu bahwa kami bahagia saling melengkapi. Dania. Istri pria itu, menemaniku dengan setia setelah kuajukan surat resign. Ada satu surat lagi yang tak lupa diberikan. Surat cerai dari Dania. Pria itu patah tanpa kata. Hanya bisa memandang kami berdua tak percaya. Dania merangkul pinggangku hangat menuju pintu keluar, membentengiku agar aku merasa nyaman. Aku tatap matanya yang penuh rasa sayang. Aku membalasnya dengan senyum yang mengembang. Dania. Kekasihku. Mimpi kita terkabulkan. Anak kita terbuahi dengan sempurna.
Aku melihatnya sedang menelungkupkan muka pada senderan sofa yang sungguh beruntung sekali dapat menyentuh kulit kenyalnya. Air matanya mengalir deras, selebat jutaan liter air hujan menenggelamkan suara tangisnya yang pilu.
15 menit yang lalu…
Rima melihatku dari kejauhan dengan raut ragu. Bajunya yang berwarna-warni tidak dapat menyembunyikan paras cantiknya dari ketakukan. Aku ingin menghindarinya. Tak ada yang bisa kulakukan. Rima memergokiku. Menelanjangiku tanpa ampun dengan kelopak matanya yang berayun-ayun. Terbelalak dan menyipit dengan deru nafasnya yang terdengar jelas penuh emosi. Rima menjauh menuju sofa. Membiarkanku tetap terlentang di atas ranjang.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka lebar. Sesosok pria muncul dengan memperlihatkan dada bidangnya yang telanjang. Ia hanya mengenakan selembar handuk untuk menutupi kejantanannya. Dilihatnya Rima sedang menangis, wajahnya bingung dan segera menghampiri.
Dengan cepat tangannya mengayunkan sebuah pisau dari keranjang buah di atas meja. Matanya nanar liar. Darah segar bercucuran memenuhi lantai. Kemudian Rima mengiris kemluan pria itu dengan sadis. Diraihnya sebuah kotak persegi dan memasukkannya dengan rapi.
Rima menghampiriku dengan pasti. Dicengkramnya aku dengan kasar. Ia memijitku mencari sebuah nomor dengan tidak sabar.
“Hallo Sayang…”
“Sayang?? Hai Mila, ini aku Rima. Kamu dimana?”
“Uhm… Eh aku di rumah Mbak”
“Tunggu aku ya Mil, sebentar lagi aku sampai sana.”
Rima pintar sekali bersuara manis. Ia mendengus dengan bengis. Dibantingnya aku secara sembarang di atas kasur. Dengan cepat ia berganti pakaian dan bergegas membawa hadiah kecil yang mengerikan. Rima tak mau repot merapikan jasad suaminya. Ia hanya mengecup bibirnya sebelum beranjak pergi. “Suamiku yang malang.”
45 menit berlalu…
“Hai Mil, maaf ya ganggu kamu malam-malam gini. Ini ada titipan dari mas Rere, dia gak sempet kasih langsung sama kamu.”
Rima berlalu pergi memunggungi Mila yang berdiri dengan sejuta pertanyaan. Tak memberinya kesempatan berbicara sepatah katapun. Rima tertawa puas sesaat setelah menutup pintu mobil. Didengarnya suara jeritan dari sebuah rumah.
Ingin rasanya mencengkram kuat-kuat paspormu, mencengkramnya sampai rusak agar kamu tidak bisa berpergian. Napasku tersengal, mungkin karena emosi, atau mungkin karena nikotin yang terlalu banyak kuhisap akhir-akhir ini.
Wajahmu lugu. Membodohiku. Sampai aku tersadar ada jejak tertinggal di tubuhmu, bukan perbuatanku. Aku terlalu ingat akan lekuk tubuhmu, dan jejak baru itu.
Hasratku seketika menguncup dan kamu merengek ingin melanjutnya.
“Josh… Please?!”
Persetan dengan kamu, persetan dengan surga yang baru saja kunikmati. Sial! Cerutu Kuba persedianku mulai habis. Amarahku semakin meradang.
***
Malam itu kau bilang akan mengunjungi orangtuamu di Broklyn, nyatanya dalam paspormu terpampang Dubai sebagai tempat tujuan. Apakah tante tua itu yang membelimu? Jack sayang, istirahatlah dengan tenang dalam danau itu.
Tawaku…
Misteri siang yang bermandikan cahaya,
Bergelayut tangis menjadikannya sandiwara.
Diamku,
Jutaan kata yang tertunda tanpa perlu menunjukan muka
Sendu!
Namun ku menggeliat untuk tunjukkan rupa,
pun hujan diakhiri pelangi yang menari-nari,
Memesona dan berseri.
Kelopak mata ini terbuka,
Malam berganti pagi,
Riuh aktivitas memberitahuku,
Bahwa hidup terus berlari.
Malam berganti pagi,
Riuh aktivitas memberitahuku,
Bahwa hidup terus berlari.
Si sepatu teplek bakal pensiun, kasihan… Dia menjerit iri kepada sepatu berkaki tinggi disebelahnya, kamu pencuri!
Sepatu berkaki tinggi terkekeh, dia hanya menatap sinis sambil lalu, bergosip dengan si kaki tinggi yang ada disebelahnya…
Sepatu2 teplek tersedu, dia menyimpan harapan pada majikan, kapan giliranku??
Majikan bingung, si kaki tinggi tampak congkak, si teplek terlalu biasa, ia pun membaurkan mereka untuk berteman, mereka mengeluh…
Si kaki tinggi merindukan majikan, ia merasa di khianati, namun ia setia mnunggu, ia marah pada si teplek, ia ingin menginjaknya dengan ujung kaki..
Si teplek semakin merendah, ini masamu. Ia pun meringkih, menunggu panggilan sang majikan.
Aku bersembunyi di balik lemari, ini malam pertamaku. Seharusnya ini adalah malam yang indah untuk pasangan suami istri baru. Terkecuali untukku yang diperistri seorang pria lapuk gendut. Ranjang besi yang menjadi tempat tidur pengantin kami berderit, jantungku mulai berdetak tak karuan. Lemari yang sempit ditambah baju ala pengantin Cina ini seakan mencekikku. Ko Hong mulai celingukan ketika kulihat dari pintu lemari. “Meeeeeyyyy…..” Ko Koh memanggilku merdu. Kali ini rasanya perutku sedang berakrobat, berjumpalitan membuat benang kusut. Ranjang kembali berderit diikuti suara gesekan sandal. Aku kembali mengintip, kini rasanya aku seperti mau mati, Ko Koh melewati lemari. Aku bergerak tak sengaja membuat gaduh. Pintu terbuka. Ko Hong membelalak melihat aku di dalam lemari. Aku terkejut. Benar-benar pingsan.
9 bulan kemudian….
Persalinanku memakan waktu yang cukup lama. Keringat sebesar biji jagung turun satu persatu dari pelipis si gendut. Ko Hong menggenggam tanganku khawatir… Ia terus berbicara dalam bahasa Cina Kantonnya yang kental. Terkadang aku mencair melihat Ko Hong yang penuh cinta. Tapi aku sebal, ia seperti memperkosaku saat aku jatuh pingsan di malam pertama kami. Kehidupan selama 9 bulan ini penuh warna. Ko Hong yang begitu dewasa tampak merasa bersalah. Aku yang masih muda dikuasai oleh emosi yang menggebu. Di awal pernikahan aku begitu manja, menyuruhnya kesana kemari untuk membeli berbagai keinginanku. Terkadang aku tertawa melihatnya penuh dengan keringat, badan gendutnya memerah menahan lelah.
Sore ini lahirlah putri cantik kami. Aku menyusuinya berseri. Dengan bibir semerah buah ceri ia menyusu di dadaku yang ranum. Rambutnya yang hitam pekat sangat lebat. Ko Hong yang tak berani mendekat hanya berdiri di sudut ranjang memperhatikan kami. Aku dan putri mungilnya. Buah cinta kami. Pada detik itu aku melihat Ko Hong sangat bersinar. Bukan karena perut gendutnya. Karena hatiku mulai bergetar setiap kali ia menatapku penuh kasih. Aku menitikkan air mata. Kini aku tahu, Opa menjodohkanku dengannya karena satu hal. Ko Hong orang yang sangat baik. Aku tersenyum memintanya mendekat. Ko Hong terbelalak. Ia mendekat. Menitikan air matanya saat menyentuh bayi mungil kami, lalu ia berkata sambil mentapku pasti, “Mey Hong cantik seperti Ibunya”.
Terjebak dalam tubuhnya yang sedang tidur, Sean berkelahi dengan rohnya sendiri. Haruskah ia tetap di alam mimpi atau kembali ke dunia nyata? Roh Sean mengamati dunia yang teramat sepi dimalam hari, dentang jarum jam semakin meninabobokannya. Saat bermimpi ia selalu hidup sebagai Sean dalam hitungan mundur. Awalnya ia kira itu hanya mimpi. Malam berganti malam, akhirnya ia sadar bahwa itu kenyataan yang membingungkan. Sean tidak ingin bangun malam ini, ia teramat senang bisa melihat kembali istrinya yang menghilang secara tiba-tiba 13 bulan yang lalu. Sarah seperti seorang dewi. Dengan tatapan mata birunya yang teduh selalu membuat Sean merasa hidup. Gaun putih yang melambai membuatnya terlihat melayang. Angin menyibakkan rambutnya, ah tato peri di pundaknya membuat Sean berdenyut penuh nafsu. Sentuhan tangannya lembut sama seperti dulu. Sean menikmati rindu itu, mencium Sarah dengan penuh cinta. Kening, bibir, dan perlahan mulai turun ke lehernya. Sean bahkan masih terampil memainkan tangannya, melucuti pakaian Sarah dan menjamah tubuhnya….. Sean terbangun. Pelipisnya penuh peluh. Sarah begitu nyata. Rasa manis bibir dan harum tubuhnya masih sangat jelas. Pandangannya berpendar masuk ke dalam bayang masa lalu.
Sean berpikir ia mungkin menjadi gila, berhalusinasi di malam dan siang hari. Suara-suara tak terdengar memainkan peran dalam otaknya. Satu persatu kejadian masa depan bisa dilihatnya. Sean merasa ngeri dengan kelebihannya. Ia ingin ke Psikolog. Tapi ia terlalu takut mendapat jawaban yang tidak ia harapkan. Sean semakin murung. Malam hari ia merasa takut semakin mengecil. Ia bahkan semakin membenci siang. Kematian lalu lalang diotaknya. Bagaimana mungkin ia rela membiarkan pikirannya terjun bebas ke alam kematian dimana satu per satu orang-orang terdekatnya masuk di dalam alamnya.
Rabu, 13 Maret 1983
Sean melihat kematiannya sendiri 3 jam sebelum maut menjemputnya. Mimpi yang menghitung mundur dan hidup masa depannya yang semakin berkurang membuat Sean tersadar ia hidup dalam bayang-bayang. Menerimanya mentah-mentah sebagai budak yang dungu. Sean segera berlari ke parkiran. Ia sudah kehilangan satu jam hidupnya. Iriana. Dokter itu yang bisa membantunya. Serampangan Sean membawa mobil, terdengar klakson yang bersahutan mengeluarkan amarah. Sean sungguh tak memperdulikannya. Dinaikinya anak tangga dua dua. Diketuknya pintu. Tak ada sahutan. Sean tak mempunyai waktu banyak. Nafasnya tersengal. Ia segera membuka pintu itu, tak dikunci. Sean terhuyung menyusuri isi rumah. Dilihatnya Iriana yang sedang memunggunginya. Berdoa dihadapan rosario dengan tudung menutupi kepala…. “Iriana tolong aku” Sean mendekat, menggapai hampa tudungnya yang tersingkap. Tato peri itu sekelebat terlihat dalam penglihatan Sean yang memudar.
Blog pada WordPress.com.
Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.